Traveling story'

Hello everybody,,,,
Welcome to my story’.
For the first time, gue mau cerita. Simak baik-baik ya, siapa tahu kalian bisa ambil pelajaran dari cerita gue.

Okay.
Jadi traveler tuh ga mudah gais, noh kan. Kenapa tiba-tiba langsung traveler? Jadi gini. Gue dari kecil tuh paling suka jalan2. Emak gue ke pasar, gue ikut. Nenek gue ke gunung muria, gue ikut. Kakak gue piknik SD, gue ikut. Abang gue piknik bareng temennya, gue ikut. Itu karena apa? Karena saking ngenesnya gue ga ada yang ngajak jalan. Padahal itu hobi gue. Jadilah gue yang selalu ngintil kemana-mana. 

Waktu gue naik kelas 3 SD, bonyok masukin gue ke pesantren. Bukan karena gue bandel atau susah diatur ya. Mereka punya niat tulus untuk memberikan pendidikan terbaik ke anak-anaknya. Jadilah hidup di pondok. Tambah gabisa jalan-jalan kan? Bingung gue. 

Nah saat dalam keadaan seperti itu, jiwa traveler gue meronta-ronta. Akhirnya gue nekat keluar diam-diam waktu jam tidur siang. Itu pondok anak, jadi semua jam kegiatan diatur. Percobaan pertama berhasil, kedua berhasil- ngajak teman juga, ketiga berhasil lagi, terus entah percobaan keberapa akhirnya kyai gue tahu. Jadilah, dimarahi habis-habisan, disuruh setor hafalan di barisan pertama selama seminggu. Susah emang punya hobi traveling. Itu gue SD lho gais, uda keliling kota selama nyantri. Sombong amat. Hehe.

Waktu SMP, gue malah ga kepikiran tuh buat keluar-keluar dan menekuni hobi traveling. Gue diem ajeg aja di pesantren. Iya, SMP nyantri lagi. Cuma uda pindah pesantren. Karena gue keterima di program unggulannya. Persaingan sungguh ketat. Temen-temen gue pinter-pinter semua. Jadilah gue harus bertahan selama tiga tahun untuk tidak traveling. Ya, walau bertahannya traveler untuk tidak traveling itu tidak dalam arti yang sebenarnya. Hehe.

Banyak yang bilang kalau orang keseringan jalan-jalan, bakalan berantakan belajarnya. Ga kekontrol. Siapa bilang? Justru traveler malah berwawasan luas. Menurut aku, orang yang tipe-tipe nilai jeblok saat punya hobi jalan-jalan itu bukan traveler. Dia cuma nafsu. Karena, if you are the real traveler, you will make your journey to produce something. And, yeah, gue lulus SMP dengan nilai UN yang ga pernah gue bayangin. Nice.

Next step is SMA. GUE MASIH NYANTRI. Iya maaf, ngegas. Tapi ya emang itu faktanya. Alhamdulillah gue bersyukur karena masa kecil gue dididik di pesantren. Karena itu juga, jiwa anak rantau melekat kuat dalam diriku. Dampaknya, gue makin gabisa ninggalin hobi gue, traveling. It is so fun. I can't forget it. Kelas sepuluh masih kalem. Paling jalannya dalam kota. 

Kelas sebelas, hmm kalian tahu sendiri kan. Kelas sebelas itu masa-masanya semua keberanian berkumpul menjadi kekuatan yang disebut nekat. Akhirnya gue dan ketiga temen gue berangkat ke kota tetangga. Apaan sih,  hehe. Nah, masalahnya pesantren gue yang ini itu bener- bener ketat. Bu Nyainya tegas. Pengurusnya mantap-mantap. Jadilah traveling dengan hati was-was. Sampai suatu ketika, kita kena hukuman. Egen. Setelah lama ga kena hukuman gara-gara hobi gue yang satu ini. Anehnya, setelah hukuman itu, kita bukannya kapok malah selalu merencanakan next journey. Akhirnya kita buat grup yang bernama 'pecandu traveling'. Not bad, right?

That are pecandu traveling's members

Itulah kenapa gue bilang jadi traveler tuh ga mudah. 

Emang harus ada pengorbanan. Tapi yang pasti, ingat!  Jangan buat pengorbanan itu jadi sia-sia. Setidaknya dari hobi traveling itu bisa menghasilkan sesuatu. Walau jadi traveler, tetep buat orang ngiler dengan prestasi seorang traveler. Mungkin dengan menjadi juara kelas, juara lomba akademik maupun non akademik, atau menghasilkan karya tulis maupun non tulis (exmpl: video), etc. 

Okay. Segini dulu. terimakasih uda mau baca cerita gue. Semangat menjadi traveler yang produktif! 

Komentar

Posting Komentar